COMING SOON: METAFORIA 2017

Lingkar Sastra ITB dari tahun ke tahun mempersembahkan sebuah perhelatan sastra bernama Metaforia sejak 2015. Metaforia berarti suatu metafora sebagai ungkapan keceriaan. Metaforia 2017 mengusung Jingle sebagai tema acara. Jingle dikaitkan dengan kesederhanaan kata-kata. Suatu hal yang enak didengar dan didendangkan.

Metaforia 2017.jpg

Lomba Cerpen Metaforia ITB 2016

Lomba Cerpen Metaforia ITB 2016
“Romansa Keberanian dalam Kata dan Kita”

Persyaratan:
1. Terbuka untuk semua kalangan di seluruh indonesia
2. lomba dibuka tanggal 25 Februari 2016 dan ditutup tanggal 27 Maret 2016
3. Tema cerita: Romansa Keberanian
4. Judul bebas selama cerita masih mengacu pada tema butir 3
5. Judul boleh menggunakan bahasa asing
6. Peserta diperbolehkan mengirim lebih dari 1 judul
7. Naskah diketik dalam bahasa indonesia yang baik dan benar dengan font Times New Roman 12, spasi 1.5 di kertas A4, terdiri dari 3-8 halaman dalam format .doc
8. Naskah merupakan karya sendiri, belum pernah dilombakan atau dipublikasikan
9. Biaya Pendaftaran Rp 25.000,-/judul, pembayaran bisa langsung di Sekretariat Lingkar Sastra (Selasar Gedung Mekanika tanah no.2 Institut Teknologi Bandung Kota Bandung Jawa Barat)
10. Pengumpulan karya dan biodata narasi beserta s can/foto bukti pembayaran dalam file terpisah (tiap peserta mengirim 2 file) melalui email metaforia2016@gmail.com dengan ketentuan:
a. Subjek/judul email : LCM_Judul Cerpen_Nama Pengarang_Asal Kota <misal:         LCM_Pengantin Mesin_Kartini_Bandung>
b. Melampirkan 2 (dua) buah file:
I. File naskah hanya berisi judul dan naskah cerpen (tanpa nama pengarang)
Format nama file : LCM_Judul Cerpen <misal: LCM_Pengantin Mesin>
II. File biodata narasi dan scan/foto bukti pembayaran terdiri dari biodata narasi (minimal memuat nama lengkap, alamat, nomor telepon, email dan nomor rekening peserta) dan scan/foto bukti pembayaran (dapat dibaca dengan jelas)
Format nama file : Bio_Judul Cerpen_Nama Pengarang <misal: Bio_Pengantin Mesin_Kartini>
11. Naskah yang dinilai oleh juri adalah naskah pertama yang dikirim (tidak ada revisi naskah)

6

Hadiah:
Juara 1 Rp 1.000.000,-
Juara 2 Rp 750.000,-
Juara 3 Rp 500.000,-
5 karya terbaik (selain juara 1,2 & 3 @Voucher Pulsa Rp 50.000,-)
Pemenang akan diumumkan pada puncak acara Metaforia di Kampus ITB tangal 9 April 2016
Kriteria penilaian :
a. Kesesuaian dengan tema
b. Orisinalitas
c. Pengolahan Ide
d. Keindahan bahasa
e. Tata tulis
Info seputar lomba bisa dilihat dan ditanyakan di:
Twitter: @lingkarsastra
Instagram : @lingkarsastraitb
Wordpress : lingkarsastraitb.wordpress.com
Line : @jdt2893d

poster-lomba-cerpen-revisi-1

F. Scott Fitzgerald, Tentang Menulis Karya Sastra (Surat)

Fiksilotus jadi tongkrongan yang mengasyikan.

FIKSI LOTUS

Pada tahun 1938, tidak sabar ingin mendapat komentar tentang karya yang ia tulis, seorang penulis muda dan mahasiswi Radcliffe College bernama FRANCES TURNBULL mengirimkan sebuah cerita pendek kepada seorang novelis ternama sekaligus teman keluarga, F. SCOTT FITZGERALD. Tidak lama kemudian, Frances menerima balasan surat berisi tanggapan yang agak kasar, namun jujur dan inspiratif.

Di tahun 1932, Fitzgerald menyewa sebuah rumah di tanah milik keluarga Turnbull selama 1.5 tahun dan karena itu menjadi dekat dengan seluruh anggota keluarga tersebut.

Surat ini diambil dari kumpulan korespondensi F. Scott Fitzgerald yang dibukukan dengan judul F. Scott Fitzgerald: A Life in Letters (1995).

Selamat membaca! FL

——————

November 9, 1938

Dear Frances:

Saya sudah membaca ceritamu dengan hati-hati, namun saya rasa harga yang harus kau bayar untuk menulis secara profesional sangatlah tinggi bila dibandingkan dengan kemampuanmu saat ini. Oleh sebab itu, kau harus menjual hatimu, reaksi terdalam-mu pada karya-karya berikutnya. Jangan fokus…

Lihat pos aslinya 452 kata lagi

Tentang Mengenang : Tingkah Manusia

Ada rupa-rupa manusia yang dikenang dengan apa yang dia lakukan, dengan apa yang dia berikan dari dirinya untuk kemaslahatan. Namanya tidak lantas terlupa meskipun yang bersangkutan telah berpindah ke alam berikutnya. Hukum alam berlaku adil di sini. Bahwa yang berbuat baik akan diperlakukan baik lagi. Begitupun kebalikannya. Yang senang menebar benih benci, menyemai luka pada manusia, harus siap-siap atas balasan kelakuannya. Pedih? Menyeramkan? Itu menjadi sebuah konsekuensi.

Mau seperti apa kita dikenang?
Ada yang dikenang sebagai penulis karena kemahirannya menyampaikan kebaikan melalui kata yang dirangkai. Ada yang diingat sebagai pelukis karena kesukaannya memainkan warna di atas kanvas-kanvas. Ada yang lihai meracik komposisi nada dan suara sehingga layak diabadikan dengan sebutan musisi top dunia. Terlepas dari apa yang ditulis, apa yang dilukis, apa yang hasilkan dari bermain nada dan suara, pelakunya telah mengerahkan apa yang tersimpan dalam dirinya berupa energi dan potensi. Karya yang dihasilkan tidak ujug-ujug ada dan dapat dinikmati. Semuanya melalui tahap-tahap mencoba. Bahkan tidak mungkin dalam prosesnya beberapa kali terjadi perang antara dirinya dengan sisi lemah dalam dirinya sendiri. Seperti potensi berputus asa, peluang marah karena berhasil tak kunjung diraih, dan hal-hal yang tidak menguntungkan lain. Namun, karena tekad yang kuat, karena mimpi yang tinggi, akhirnya tujuannya berbuat, dapat didapat. Sekali lagi, semuanya tidak mudah (tapi masih mungkin).

Di lain sisi, ada pula yang dikenang untuk selanjutnya hanya dijadikan sebuah pelajaran. Fir’aun misalnya. Sosok yang angkuh, berperangai tak patut dicontoh, dan durhaka pada Tuhannya. Lantas banyak juga manusia-manusia lain yang dituliskan dalam kitab suci (Alquran) sebagai manusia yang dihindari perilakunya untuk ditiru, semisal Qarun dan manusia-manusia durhaka lainnya.

Penentuan mau dikenang seperti apa menjadi pilihan sendiri. Mau dikenang karena kebaikan, tentu harus rajin dan tulus berbuat baik—tanpa embel-embel lain selain ikhlas. Atau sebaliknya, ketika kita memilih tak segan menyakiti hati orang, membuat orang merasa risih dengan kehadiran kita (karena merasa terancam), maka bersiaplah untuk dikenang juga, tapi sebagai sosok yang dibenci, dihindari kehadiranya.

Pada akhirnya, mari kita lebih dewasa dalam berpikir dan bijak dalam bertindak! Karena dengan sendirinya pikiran kita melahirkan tindak yang nantinya menentukan kualitas kesan orang lain terhadap kita. Jangan sampai kesan yang tercipta pada benak orang tentang diri kita adalah sosok yang berbahaya.

[Tulisan ini dibuat oleh Muhammad Irfan Ilmy, Staf Dirjen Akademik dan Profesi Kementerian Pendidikan BEM REMA UPI Bandung]

Posted from WordPress for Android